Hotel Indonesia

Banyak di antara orang-orang seusia saya memiliki kenangan khusus tentang Hotel Indonesia (HI). Sekalipun diawali dengan pengalaman pahit karena diusir karyawan hotel pada tahun 1967 ketika ingin belajar naik lift di hotel itu, hotel yang satu ini sungguh membawa banyak kenangan.

Pada awal 1970-an, ketika bekerja di Departemen Pertahanan dan Keamanan di Medan Merdeka Barat, saya sering berjalan kaki dari kantor ke HI yang berjarak sekitar satu setengah kilometer pergi-pulang untuk membeli surat kabar berbahasa Inggris. Ketika itu, di seluruh Jakarta hanya drugstore HI yang menjual surat kabar dan majalah asing secara eceran. Di masa itu, beberapa maskapai penerbangan asing seperti PanAm dan KLM pun berkantor di sana.

Di pertengahan 1970-an, saya – bersama istri dan anak-anak – juga sering berjalan kaki dari ujung Jalan Sutan Syahrir ke HI untuk makan es krim di Java Room, coffee shop yang legendaris. Duh, di masa itu, memesan banana split di Java Room sudah merupakan kemewahan yang luar biasa. Bubur ayam Java Room juga banyak dicari orang. Tidak heran, ketika Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menjadi Dubes RI di Washington DC, ia memboyong seorang chef dari HI untuk memasak di kediaman resmi Dubes. Maklum, ia juga menjabat Komisaris Utama PT HII waktu itu.

Banyak sekali pertemuan – casual maupun official – yang pernah saya hadiri di Hotel Indonesia ini. Mulai dari sarapan bersama beberapa teman seperti Ken Soedarto, Wisaksono Noeradi, Fikri Jufri, Aristides Katoppo; berbagai seminar tingkat nasional; sekadar ngopi sore dengan beberapa teman; atau menghadiri pesta-pesta hari nasional yang diselenggarakan berbagai kedutaan. Hotel Indonesia – setidaknya hingga pertengahan 1970-an – adalah the place to see and to be seen. Sesudah itu, HI menjadi masa lalu yang kehilangan kejayaannya. Faded glory! Pada saat-saat akhirnya, Java Room bahkan dikenal sebagai tempat “perempuan” menunggu tamu.

Hotel Indonesia diresmikan oleh Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama, pada bulan Agustus 1962. Tugu Selamat Datang di depannya juga baru saja diresmikan. Keduanya memang sengaja dibangun untuk menyambut Asian Games IV yang diselenggarakan tahun itu di Jakarta. Arsitek bangunan hotel ini adalah suami-istri Abel dan Wendy Sorensen, dari Amerika Serikat, yang dipilih sendiri oleh Bung Karno. Dananya diperoleh dari Pampasan – pundi-pundi khusus yang disediakan Kerajaan Jepang sebagai pernyataan maaf atas perbuatan mereka di masa Perang Dunia II. Di tahun 1970-an, Amerika Serikat memberi tambahan dana untuk membangun wing baru di sebelah Utara. Bangunan ini – yang konon merupakan “imbal-balik” untuk urusan TimTim – tidak merupakan bagian bersejarah, sehingga tidak dilestarikan.

Hotel Indonesia adalah hotel pertama di Jakarta yang dibangun dengan standar hotel internasional modern – lama setelah hotel-hotel sekelas Des Indes di Molenvliet West (sekarang Jalan Gajah Mada) dan Hotel Wies di Molenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk) pudar kejayaannya. Hingga sekarang pun, Hotel Indonesia – di masa lalu sering disebut sebagai A Grand Lady – merupakan landmark Jakarta, khususnya bila difoto bersama Tugu Selama Datang.

Abel dan Wendy Sorensen dikenal sebagai arsitek persisi. Contohnya, bila merancang kamar, ukurannya sedemikian rupa tepat sehingga tidak ada ubin yang perlu dipotong. Untunglah, desain karya arsitek unggulan dunia itu tetap dilestarikan oleh pihak Djarum yang mendapat kontrak BOT (Build-Operate-Turn) selama 30 tahun untuk mengelola kawasan yang sekarang disebut Grand Indonesia itu. Hotel Indonesia Kempinski kini bahkan menyediakan satu ruang seluas 100 meter persegi untuk memajang beberapa benda seni yang dulu menjadi elemen dekorasi hotel. Bung Karno sendiri yang memilih berbagai benda seni itu di masa lalu.

Setelah melakukan kewajiban menyontreng pada Pilpres kemarin, saya langsung check in di Hotel Indonesia Kempinski. Sebelumnya, ketika melakukan online booking, saya sempat memeriksa tawaran khusus dari situs Asia Rooms. Untuk Grand Deluxe, tarif termurah yang ditawarkan situs itu adalah US$357 termasuk pajak. Lewat situs resmi Hotel Indonesia Kempinski, ternyata US$50 lebih murah. Artinya, konsolidator tidak selalu dapat menawarkan tarif yang lebih murah.

Memasuki lobi utama hotel ini, saya sungguh tidak dapat merasakan suasana tempo doeloe. Hal ini dapat dijelaskan. Selama belasan tahun terakhir sebelum ditutup untuk direnovasi, Hotel Indonesia sudah mengalami degradasi yang luar biasa. Sekarang, lobi yang didominasi warna coklat dan ruang terbuka luas terasa anggun dan mewah.

Hotel termewah kelolaan Kempinski yang pernah saya kunjungi adalah The Emirates Palace di Abu Dhabi, dengan chandeliers mewah berkelap-kelip dan bergemerincing di mana-mana. Untungnya, HI Kempinski tidak memiripi kelimpahmewahan The Emirates Palace, tetapi lebih hangat dan homey seperti hotelnya yang di Lufthansa Center, Beijing.

Java Room, coffee shop legendaris itu, kini telah tiada. Di selasar tempatnya dulu, kini hadir Lobby Nirwana Lounge – tempat yang nyaman untuk ngopi, high tea, maupun cocktail di malam hari. Di sudut Ganesha Wing – tempat Guwa Rama dulu – kini ditempati Casa d’Oro, sebuah restoran yang menawarkan hidangan Italia. Restoran utamanya kini diwakili oleh Signatures, tempat untuk makan pagi dan menyediakan buffet untuk makan siang dan makan malam, di samping juga hidangan a la carte. Signatures, menurut saya, masih harus mengejar kualitas Satoo di Shangri-La dan The Cafe di Hotel Mulia.

Main feature Hotel Indonesia doeloe yang kini hilang adalah kolam renang berukuran Olimpik yang terletak di belakang Ramayana Wing. Kolam renang hotel kini pindah ke lantai 17. Akan kikuk jadinya bila kolam renang untuk tamu hotel masih berada di tempat semula, karena akan terlihat jelas oleh para tamu supermall Grand Indonesia. Kawasan bekas kolam renang ini sekarang sedang dipersiapkan menjadi Pavilion Ramayana Bar & Lounge. Bagian utamanya menempati kubah asli yang dilestarikan, ditambah beberapa lounges di sekitarnya – dengan konsep bale kambang.

Saya juga berkesempatan melihat Bali Room, ballroom seluas 3000 meter persegi yang pasti akan segera populer sebagai tempat pernikahan keluarga-keluarga eksklusif Jakarta. Lukisan Lee Man Fong berjudul “Sea Creatures” (sekarang diperkirakan senilai Rp 5 miliar) menghiasi bagian depan sasana ini.

Seorang karyawan keamanan yang “memergoki” saya sedang mencari-cari beberapa titik yang dulu ada di hotel itu, mengatakan: “Ini seperti kulit telur yang utuh, Pak, tetapi isinya sudah berubah total.” Sebuah komentar yang sungguh cerdas. Dari luar, ini adalah Hotel Indonesia yang dulu. Begitu sampai di dalam, kita sadar bahwa semuanya telah berubah. Standar hotel internasional memang telah berubah dahsyat, sesuai dengan tuntutan tamu yang tidak pernah puas.

Kamar-kamar Hotel Indonesia Kempinski dengan langit-langitnya yang rendah ditata dengan bagus dan elegan. Kamar Grand Deluxe berukuran 7×8 meter, disekat baik untuk membagi ruang untuk tidur dan kamar mandi/rias yang mewah. Bathtub berukuran besar yang bisa untuk mandi berdua ditempatkan di sudut, sehingga tamu dapat mandi sambil melihat Bundaran HI di bawah.

Kembali ke Hotel Indonesia, memberi kesan tersendiri bagi saya. Malam itu, di depan jendela kamar yang lebar, sambil memandangi lampu-lampu mobil di Bundaran HI, tiba-tiba saya teringat Bang Ali Sadikin – Gubernur DKI kesayangan kita semua. Dari tempat ini, sekitar 38 tahun yang lalu, saya melihat “Dancing on the Street” – pesta dansa di sepanjang Jalan Thamrin pada malam menjelang HUT Jakarta.

Ah, kenapa sekarang – demi alasan keamanan dan ketertiban – kita tidak dapat melakukannya lagi? Bang Foke atau Mpok Lola (Aurora Tambunan) pasti masih ingat itu. Nyok, Bang, Mpok, kita bikin lagi?

Bondan Winarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: